Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2015

Sejarah Kota Batam

Kota Batam adalah kota yang strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional. Luas dari daratan ini 1.5 kali dari luas Singapura yang menjadi tetangganya yakni 1.040 km persegi. Iklim yang ada di kota ini adalah iklim tropis dengan daratan yang berbukit serta memiliki banyak lembah. Tanah yang ada di Bata ini bisa dikatakan kurang subur karena berjenis tanah merah. Meski dikaruniai tanah yang kurang subur, tapi ada aspek lain yang membuat Batam tampak menggoda bagi orang lain untuk mengunjunginya.


Letak kota Batam sangat strategis. Kota ini bersebelahan dengan Selat Singapura dan Malaysia di bagian utara, berbatasan dengan Kabupaten Lingga di sebelah selatan, dengan Kabupaten Karimun di barat serta arah timur dengan Pulau Bintan dan Tanjung Pinang. Hal ini menjadikan Kota Batam sebagai jalur yang harus dilewati oleh banyak pedagang mulai dari skala kecil sampai pedagang raksasa. Hal ini karena sebagai jalur pelayaran internasional menyebabkan kota ini mampu menjadi daya tarik  bagi orang luar untuk mendapatkan keuntungan di sana.

Hal ini dapat dipahami karena dengan besarnya arus perdagangan maka akan menimbulkan multiplier effect bagi bidang usaha lainnya seperti semakin pesatnya kawasan hiburan, semakin maraknya pusat perbelanjaan dan sebagainya. Multiplier effect ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi kota Batam langsung menanjak.

Dengan tujuan mula menjadikan Pulau Batam sebagai Singapuranya Indonesia, mendorong pemerintah Indonesia membuat keputusan untuk menjadikan Pulau Batam sebagai daerah industri. Untuk mewujudkannya, rencana ini didukung sepenuhnya oleh Badan Otorita Batam (BOB)  atau yang lebih dikenal sebagai Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam. Selanjutnya berubah nama menjadi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam).

Program ini terjadi pada tahun 70-an tepatnya dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1973. Hal ini karena Kota Batam merupakan kota yang menempati posisi strategis. Berada di ujung pulau Indonesia serta berdekatan dengan Malaysia dan negara maju Singapura membuatnya menjadi salah satu kawasan yang terhubung dalam jalur pelayaran internasional. Dalam catatan sejarah, pengembangan pulau Batam melewati 3 periode, yaitu sebagai berikut.

Periode Masa Lampau

Sejarah Pulau Batam bisa ditelusuri sewaktu pertama kalinya Bangsa Mongolia dan Indo Aryan pindah menetap di kerajaan Melayu, yaitu sekitar tahun 1000 M sebelum kerajaan Islam Malaka dan Bintan berdiri. Waktu itu kolonial Belanda, Inggris, dan Portugis belum menginjakkan kaki di Pulau Batam.

Pada 1513 M, Pulau Batam telah menjadi bagian dari kerajaan Johor. Penduduk Pulau Batam diisi oleh orang – orang Melayu yang dijuluki sebagai orang Selat atau orang Laut. Dalam versi lain, sejarah tentang Pulau Batam ini diceritakan telah dihuni oleh orang Selat pada abad 14 atau berkisar pada tahun 1300 M. Orang – orang Selat ini menghuni pulau ini sejak kerajaan Tumasik masih berdiri. Kerajaan Tumasik sekarang bernama Singapura, sebuah negara kecil tapi sangat maju yang ada di Asia.

Pada saat itu, kekuasaan berpusat di Bentang yang hari ini dikenal sebagai Pulau Bintan serta dipimpin oleh Lakamana Hang Nadim. Pada saat itu, Laksamana Hang Nadim aktif mengusir penjajah. Setelah kepemimpinan Laksamana Hang Nadim estafet selanjutnya dipegang oleh Sultan Johor hingga sampai pertengahan abad 18. Pada masa itu, Kerajaan Malaka sedang dalam masa jaya – jayanya.

Periode Pendudukan kolonial

Keberadaan Selat Malaka pada abad ke 18 ternyata begitu menggoda kaum penjajah untuk menguasainya. Keberadaan selat ini sendiri memunculkan rivalitas di antara Inggris dan Belanda untuk dapat menguasainya.

Pada saat itu , Bandara Singapura berkembang sangat pesat sehingga Belanda melakukan berbagai strategi agar keinginannya untuk menguasai perdagangan Melayu bisa berhasil. Hal ini menyebabkan banyak para saudagar – saudagar datang dengan sembunyi – sembunyi ke Singapura. Sedangkan Pulau Batam yang berbatasan dengan Singapura menjadi tempat bersembunyi bagi para pedagang dari gangguan patroli tentara Belanda.

Pada abad ke 18, Lord Minto dan Raffles dan kerajaan Inggris melakukan transaksi barter dengan pemerintah kolonial Hindia belanda yang berakibat kepada penyerahan Pulau Batam yang disebut kembarannya Singapura jatuh ke tangan Belanda.

Orang yang menjadi penguasa Batam untuk pertama kalinya adalah Nong Isa atau Raja Isa bin Raja Ali. Beliau diperintah oleh Sultan Riau dan Yang Dipertuan Muda Riau untuk memerintah kawasan Nongsa dan daerah sekitarnya. Kawasan Nongsa dan daerah sekitarnya inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Pulau Batam. Surat perintah dari Sultan Riau dan Yang Dipertuan Muda Riau tertanggal 22 Jumadil Akhir 1245 atau bertepatan dengan kalender Masehi, yakni tanggal 18 Desember 1829.

Tanggal ini yang kemudian dijadikan sebagai tanggal Hari Jadi Kota Batam. Dahulu Kota Batam bernama Pulau Batang. Sejarah tentang asal usul nama ini tertulis pada sebuah peta yang digunakan VOC pada tahun 1675. Peta ini tersimpan rapi di Universitas Leiden Belanda.

Periode Globalisasi

Pada tahun 1960-an, Batam ditunjuk dan ditetapkan menjadi basis logistik untuk minyak bumi yang bersumber di Pulau Sambu, kota yang berumur sangat tua. Jauh lebih tua 1 abad dari Kota Batam yang sekarang dijadikan tempat tujuan berinvestasi, melakukan kegiatan ekonomi, perdagangan, alih kapal serta jasa.


*  Dikutip dari berbagai sumber, disarikan oleh Esra
[ Baca Selengkapnya.... ]

Jumat, 24 Mei 2013

Peresmian Kios PK5 Oleh MENDAGRI dan MENKOP-UKM

Ketua DPD LPM Kota Batam sedang menyampaikan aspirasinya
kepada Menkop-UKM dan Mendagri
Pada Hari Jum’at tanggal 24 Mei 2013 Kota Batam kedatangan tamu dari jakarta tepatnya 2 orang menteri Kabinet Bersatu II yaitu Bapak Gamawan Fauzi (Menteri Dalam Negeri dan Bapak Syarif Hasan (Menteri Koperasi dan UKM) serta Kepala BPOM Pusat. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melakukan sebuah peresmian kios pedagang kaki lima yang terletak didaerah kawasan perdagangan dan bisnis jodoh dimana merupakan sebuah program yang diluncurkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM serta menggandeng Kementerian lain sebagai upaya peningkatan terhadap ekonomi kerakyatan agar dapat menyerap tenaga kerja dan menumbuhkan ekonomi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut Bapak Syarif Hasan mengemukakan kepada pedagang kaki lima bahwa”Kementerian Koperasi dan UKM akan memberikan bantuan dana sebesar 20 juta untuk menambah permodalan yang ada dengan bunga 0,9 %, namun beliau menyampaikan jangan sampai modal tersebut digunakan bukan meningkatkan usaha tapi malah dibelikan Hp atau DP kredit motor yang disambut gelak tawa oleh para tamu undangan.” Pada kesempatan lain Bapak Menteri Gamawan menghimbau pada para pedagang agar makanan yang didagangkan mengandung nilai gizi serta higienis, karena jangan sampai anak-anak indonesia mengkonsumsi makanan yang tidak layak yang dapat berdampak pada pertumbuhan fisik dan otak yang tidak baik, oleh karena itu BPOM juga harus selalu proaktif dalam menguji makanan yang beredar dipasaran,” begitu beliau berpendapat.

Bapak Menteri Syarif Hasan dan Gamawan Fauzi
Setelah akhir acara Para Menteri menyempatkan diri untuk meninjau lokasi dan bercengkerama dengan para pedagang kaki lima untuk mendengarkan kendala serta aspirasi yang ada saat ini. Bapak-Bapak Menteri yang saat itu didampingi oleh Gubernur Kepulauan Riau yaitu Bapak H.M Sani dan Kepala BPOM Pusat serta Walikota Batam H. Ahmad Dahlan turut menyambangi Pengurus DPD LPM Kota Batam yang sedang duduk di kios pedagang kaki lima. Pada kesempatan tersebut, Syafruddin Sa’adoen memperkenalkan diri kepada Bapak Menteri Gamawan Fauzi dan Bapak Syarif Hasan sebagai Pengurus DPD LPM Kota Batam yang saat ini menjabat menjadi Ketuanya. Beliau mengatakan,” Kami DPD LPM Kota Batam turut serta membantu dalam program serta kegiatan Pemerintahan Kota Batam untuk membangun dan meningkatkan ekonomi, pendidikan dan kesehatan agar terwujud masyarakat yang sejahtera, apalagi LPM juga bernaung diKementerian dalam negeri tepatnya di Direktorat Jendaral Pemberdayaan Masyarakat  Desa (PMD), kami juga saat ini telah mendirikan badan usaha lain sesuai dengan amanat AD/ART LPM yaitu Koperasi Jasa Lestari Prima Mandiri (KOP-LPM) yang telah diresmikan bersamaan dengan pelantikan DPD LPM Kota Batam pada Tanggal 25 April, oleh karena itu kami mohon bantuannya kepada Bapak-Bapak menteri untuk mendukung program kerja yang  kami lakukan,” begitulah yang disampaikan Syafruddin Sa'adoen Kepada Menteri yang hadir dalam peresmian tersebut.
Bapak Gamawan Fauzi menanggapi dengan antusias apa yang telah dipaparkan oleh Ketua DPD LPM Kota Batam Syafruddin Sa’adoen dan langsung memanggil Bapak Walikota H. Ahmad Dahlan yang saat itu memang agak berjauhan dan langsung cepat menghampiri, lalu saat itu Bapak Menteri Dalam Negeri memerintahkan kepada Bapak Walikota Batam untuk membantu program serta kegiatan yang dilaksanakan oleh DPD LPM Kota Batam karena Organisasi tersebut merupakan mitra pemerintah dalam pembangunan dimasyarakat yang juga merupakan organisasi yang berada dibawah naungannya, Bapak H. Ahmad Dahlan saat itu menggangguk mengiyakan apa yang dikemukakan Bapak Gamawan Fauzi. Sementara itu Bapak Syarif Hasan Juga mengatakan agar Koperasi Lestari Prima Mandiri (KOP-LPM) agar didukung oleh Pemerintahan Kota Batam, agar dapat membantu juga dalam program pemerintah dalam memacu ekonomi kerakyatan.
Dengan adanya petunjuk dan pernyataan yang diberikan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri dan Menteri Koperasi dan UKM maka mari DPD LPM Kota Batam mulai bersinergi dengan pemerintahan kota batam untuk bersama-sama membangun masyarakat kota batam menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. 


Amiiin............................
[ Baca Selengkapnya.... ]